That One Temporary Thingy
Belakangan ini, entah kenapa saya merasa saya jauh lebih rapuh dari sebelumnya. Sensitif, jadi overthinking, suka kebawa suasana sendu dan gampang terpancing emosinya. Hal ini berdampak cukup signifikan kepada produktivitas saya akhir-akhir ini. Padahal, batas akhir pengumpulan tugas-tugas dan pekan ujian akhir sudah mendekat. Akhir-akhir ini, saya merasa kewalahan jadinya. Dapat tekanan dari berbagai arah, namun kondisi hati sedang tidak mendukung untuk menyelesaikan semuanya. Jadi tambah pusing.
Hingga tadi siang, sebuah notifikasi Line masuk ke ponsel. Berasal dari seorang teman yang sudah sejak lama selalu mengajak ketemuan saking lamanya nggak pernah ngobrol padahal satu fakultas.
Dan siang itu, pas banget saya lagi tidak ada kerjaan, jadi cukup cepat merespon chat teman saya. Intinya, teman saya ini lagi down. Hampir sama seperti saya, lagi pada titik rapuh juga.
Pada akhirnya, kita malah telponan setengah jam lebih sambil nangis-nangis menceritakan ketakutan dan kepusingan kita berdua akhir-akhir ini. Entah kenapa, telponan siang itu menurut saya super depressive. Saya sendiri kaget kenapa bisa-bisanya saya ngobrol sama dia tentang topik yang menurut saya common terjadi di awal 20an hingga tak terasa, saya menangis. Overwhelmed as its finest. Teman saya pun demikian. Saya tidak pernah menyangka, di balik sosoknya yang selalu ketawa-ketiwi di depan saya, he's vulnerable. Kaget juga pas mendengar suaranya agak tercekat pas cerita.
Banyak banget yang dibahas, salah satunya adalah tentang bagaimana seseorang datang dan pergi secepat itu. Dari yang saya pahami, di usia 20an memang saat-saatnya harus siap dengan segala temporary thingy, termasuk pertemanan. Makanya banyak yang bilang, pertemanan di usia 20an kompleks banget. Entah kenapa, akhir-akhir ini jadi makin setuju sama pernyataan itu. Padahal, di usia 20an, banyak banget momen yang menurut saya harusnya dirayakan bersama teman-teman terdekat. Lulus sidang tugas akhir, wisuda, first job, lamaran, nikah, dan banyak lagi. Namun, ada beragam faktor yang pada akhirnya menentukan siapa yang akan bertahan, siapa yang akan pergi di usia ini. Seleksi alam, mungkin?
Belakangan ini, saya baru ngerasain hal ini. Ada teman saya yang menurut saya jadi berubah, banget, sejak beberapa bulan lalu. Yang biasanya sering cerita atau kasih nasehat, sekarang bener-bener off. No more reports or small talks. Padahal sebelumnya, gak pernah putus kalau udah cerita-cerita. Sekarang? Ditambah jadwal kita yang super beda, papasan di kampus juga bisa dihitung dengan jari mungkin untuk semester ini. Saya jadi mikir
Prasangka baik saya kala itu "Maybe he needs a time off, Ay. Coba lo juga, urusin dulu segala hal yang harusnya lo urusin." Oke, saya setuju dengan kata hati. Saya mencoba fokus mengurusi banyak hal. Hasilnya? Well, dibilang berhasil teralihkan, tidak juga. Dibilang gagal juga tidak bisa. Membingungkan. Sesungguhnya, sampai tadi saya telfonan sama teman saya, masih ada perasaan mengganjal. Tapi selesai mengetik kalimat ini, sudah mulai sirna sepertinya ketakutan saya. Namun tetap saja, hal ini merupakan salah satu tamparan buat saya. Bahwa terkadang yang sudah lama ada pun belum menjamin akan selalu ada di masa-masa yang akan datang. Saya sendiri belum mengetahui pandangan dari teman saya ini tentang aksinya ini. Mungkin ini cuma su'udzon saya saja. Semoga saya salah.
Anyway, terkadang ada saatnya juga yang membuat rumit sebuah pertemanan adalah saya sendiri. Belakangan ini, sempat kejadian saya marah besar kepada teman saya akibat hal sepele, tapi disitu saya sampai berpikir "Should I shut the door and nothing you, my fellow?" Dari yang sering saya temui, fenomena ini dikenal sebagai INFJ Door Slamming. Yes, sebagai INFJ saya merasa nyambung banget dengan fenomena ini. Kadang, ada saatnya saya kesel banget sama orang sampai saya berfikir seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Namun pada akhirnya, saya balik nanya ke diri saya "Nanti kalau semua pintu kamu tutup, kamu bakal sama siapa, Ay?" Sering banget saya mengalami pergulatan batin semacam ini di tahun ini. Di satu sisi, ini bisa dilihat sebagai antisipasi saya untuk mengurangi toxic people di sekitar saya dengan harapan saya gak bakal marah lagi kalau di sekeliling saya tidak ada orang-orang seperti mereka. Namun di lain sisi, kalau saya terlalu cepat melepaskan seseorang, I may not be able to see the beauty within. Bawaannya jadi negatif terus ke depannya. Serba salah memang.
Pada akhirnya, people do come and go. The most certain thing in this life is the uncertainty itself, kalau kata orang. Jadi memang harus belajar merangkul kesepian secara perlahan.
Hingga tadi siang, sebuah notifikasi Line masuk ke ponsel. Berasal dari seorang teman yang sudah sejak lama selalu mengajak ketemuan saking lamanya nggak pernah ngobrol padahal satu fakultas.
"Ay, apa kabar? Butuh hiburan nih gue"
Pada akhirnya, kita malah telponan setengah jam lebih sambil nangis-nangis menceritakan ketakutan dan kepusingan kita berdua akhir-akhir ini. Entah kenapa, telponan siang itu menurut saya super depressive. Saya sendiri kaget kenapa bisa-bisanya saya ngobrol sama dia tentang topik yang menurut saya common terjadi di awal 20an hingga tak terasa, saya menangis. Overwhelmed as its finest. Teman saya pun demikian. Saya tidak pernah menyangka, di balik sosoknya yang selalu ketawa-ketiwi di depan saya, he's vulnerable. Kaget juga pas mendengar suaranya agak tercekat pas cerita.
Banyak banget yang dibahas, salah satunya adalah tentang bagaimana seseorang datang dan pergi secepat itu. Dari yang saya pahami, di usia 20an memang saat-saatnya harus siap dengan segala temporary thingy, termasuk pertemanan. Makanya banyak yang bilang, pertemanan di usia 20an kompleks banget. Entah kenapa, akhir-akhir ini jadi makin setuju sama pernyataan itu. Padahal, di usia 20an, banyak banget momen yang menurut saya harusnya dirayakan bersama teman-teman terdekat. Lulus sidang tugas akhir, wisuda, first job, lamaran, nikah, dan banyak lagi. Namun, ada beragam faktor yang pada akhirnya menentukan siapa yang akan bertahan, siapa yang akan pergi di usia ini. Seleksi alam, mungkin?
Belakangan ini, saya baru ngerasain hal ini. Ada teman saya yang menurut saya jadi berubah, banget, sejak beberapa bulan lalu. Yang biasanya sering cerita atau kasih nasehat, sekarang bener-bener off. No more reports or small talks. Padahal sebelumnya, gak pernah putus kalau udah cerita-cerita. Sekarang? Ditambah jadwal kita yang super beda, papasan di kampus juga bisa dihitung dengan jari mungkin untuk semester ini. Saya jadi mikir
"Am I doing something wrong?"
Anyway, terkadang ada saatnya juga yang membuat rumit sebuah pertemanan adalah saya sendiri. Belakangan ini, sempat kejadian saya marah besar kepada teman saya akibat hal sepele, tapi disitu saya sampai berpikir "Should I shut the door and nothing you, my fellow?" Dari yang sering saya temui, fenomena ini dikenal sebagai INFJ Door Slamming. Yes, sebagai INFJ saya merasa nyambung banget dengan fenomena ini. Kadang, ada saatnya saya kesel banget sama orang sampai saya berfikir seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Namun pada akhirnya, saya balik nanya ke diri saya "Nanti kalau semua pintu kamu tutup, kamu bakal sama siapa, Ay?" Sering banget saya mengalami pergulatan batin semacam ini di tahun ini. Di satu sisi, ini bisa dilihat sebagai antisipasi saya untuk mengurangi toxic people di sekitar saya dengan harapan saya gak bakal marah lagi kalau di sekeliling saya tidak ada orang-orang seperti mereka. Namun di lain sisi, kalau saya terlalu cepat melepaskan seseorang, I may not be able to see the beauty within. Bawaannya jadi negatif terus ke depannya. Serba salah memang.
Pada akhirnya, people do come and go. The most certain thing in this life is the uncertainty itself, kalau kata orang. Jadi memang harus belajar merangkul kesepian secara perlahan.
Comments
Post a Comment