My Best Friend

 Hm sulit juga ini topiknya.

I consider myself a social butterfly. Thus, I don't know who is my actual best friend. Then again, what is the definition of a best friend? 

Saya orang terburuk kalau masalah merawat pertemanan. Banyak teman saya yang punya teman awet dari piyik sampai umurnya sekarang. Saya? Coba saya pikir..........enggak sih? Sama teman TK lost contact, teman SD tergabung sih di grup alumni (yang saya mute). Dan karena gak ada teman SD yang satu SMP sama saya dan kayak beda dunia gitu SD dan SMP saya, jadi ya babay. Ada sih beberapa yang masih saya follow di sosial media tapi kalau untuk ngobrol panjang? Gak pernah deh kayanya. Terakhir kontakan sama teman SD yang intens itu jaman awal SMP via Ebuddy, YM, Windows Messenger. Masuk semester akhir kelas 7, kayanya udah berkurang intensitasnya. Pola yang sama berulang di teman SMP. Ada sih beberapa teman SMP yang bareng di SMA karena ya seperti diketahui, sekolah di Depok kan jumlahnya sedikit sekali, jadi ya pertemanannya muter di situ aja. Masih kontakan sama teman SMP yang tidak satu SMA ya kayaknya di kelas 10, trus yaudah ganti aja gitu lingkaran pertemanan. Jadi kalau dilihat dari pola ini, saya berteman berdasarkan yang paling baru berinteraksi sama saya saja. Anaknya gak pernah mencoba merawat pertemanan gitu. 

Faktor apa yang mendasari sampai bisa terjadi hal ini hmm....ya udah sibuk masing-masing dan mungkin perubahan pola pikir dan kebiasaan kali ya? Kalau kata orang kan, biasanya orang akan ketemu sama yang "satu frekuensi". Nah mungkin seiring bertambah usia, ya berubahlah frekuensinya saya dan teman-teman saya. Tapi kalau dibilang dulu menikmati gak masa-masa berteman sama teman yang dulu akrab? Oh iya. Mungkin memang ya saya anggap seru pertemanannya ya di kala itu saja. Kalau dirawat sampai hari ini, kayaknya enggak. 

Ini terdengar arogan banget, tapi saya juga percaya ya hidup dan orang kan silih berganti. Saya gak bisa menahan juga kalau orang-orang mau pergi. Saya rasa ini terpengaruh dari perpindahan SD ke SMP yang benar-benar dunia baru bagi saya, dilihat dari lokasi sekolah, lingkungan dan keluarga teman-teman saya, serta tidak adanya teman yang membersamai di SMP yang akhirnya bikin saya harus adaptasi ekstra keras dan jadi lebih rela aja untuk melepaskan apa-apa yang saya miliki untuk bisa fit in di lingkungan baru. Mungkin akan beda cerita kalau SMP saya dulu masih di satu sekolah SD saya. Ya jadi lebih mungkin untuk bisa merawat pertemanan aja gitu.

Nah, yang bisa dibilang agak awet adalah pertemanan SMA. Kalau mau dibandingin sama teman kuliah, malah saya ngerasanya lebih awet teman SMA. Itu juga karena satu ekskul. Kalau yang karena sekelas...........malah gak terlalu dekat. Ya ada sih teman yang sekelas dan kebetulan satu ekskul yang masih lekat pertemanannya. Sampai sebelum pandemi, kita masih makan bareng sepulang kantor. Di group chat juga masih terbilang ramai. Kalau ditanya faktor apa yang mendasari hmmm...apa yah? Padahal sebenarnya kita semua backgroundnya beda semua. Saya masih nyari fondasi apa sebenarnya yang kita punya sampai jadinya masih awet pertemanannya sampai hari ini. Kalau dibilang kita pertemanan yang unch-unch gitu, enggak juga sebenarnya. Tipikal low maintenance friendship sih kalau dibilang. Ngumpul juga gak yang rutin. Tapi kayak kalo ada apa-apa, baliknya pasti ke grup ini lagi gitu.

Di kuliah, sempat punya peer group tapi saya sendiri pun gak merasa yang lekat banget gitu loh pertemanannya. Awal banget kuliah punya peer group yang isinya teman SMA yang satu fakultas. Dengan background yang beda-beda, yaudah akhirnya mencar aja tuh peer group. Kalau interaksi sama anggota peer groupnya, sebenarnya masih kalau secara individu. Tapi kalau as a whole group kayak dulu, enggak deh rasanya. Yaudah, makin naik semester akhirnya karena kebetulan aja satu jurusan dan peminatan dan sering sekelas, trus yaudah secara informal jadi peer group baru (ya mana ada sih peer group yang terbentuknya pakai akta?). Selain peer group yang ada group chatnya, banyak sih saya dekat dengan orang per individu gitu. We cross path and then voila! Klik aja. I talked with a lot of people from different background in college. Bener-bener definisi memperluas lingkaran tapi gak pandai merawat sih kalau kuliah dulu, haha.

Nah, perlu diketahui, saya tuh orangnya tipikal yang membagi lapisan-lapisan diri saya ke orang yang berbeda. Jadi misalnya kalau mau galau tentang kerjaan dan masa depan yang material, saya curhatnya ke *sensor* (menghilangkan identitas agar supaya tidak terjadi kecemburuan sosial :p). Kalau mau curhat bucin bucin ya ke *biiip*. Kalau ngobrol asal cuma minta rekomendasi film gitugitu ke *ninuuuut*. Bisa dibilang saya tuh orangnya terbuka tapi gak mudah dibaca. Ea. Jadi ya kalau mau bilang siapa sahabat saya? Ya saya juga bingung, wkwk. 

On a lighter note, kebingungan saya menentukan siapa teman saya kadang bikin saya mikir "Ini yang saya undang kalau saya nikah siapa ya?" WQWQ. Tapi beneran, saya mikir aja gitu.

Jadi menurut saya, teman-teman yang bisa bertahan sampai hari ini adalah teman-teman yang lolos seleksi alam dan ketahanan mental berteman dengan saya, haha. I owe you big time, gaes. Terima kasih sudah menerima saya dalam hidup kalian.

Comments