My Favorite Book(s)

Dari kecil, emang di keluarga selalu didekatkan dengan kegiatan membaca. Kalau ada yang pernah ke rumah saya, pasti ngeh banget kalau koleksi buku di rumah saya sebanyak itu (sampai saya jadi mikir banget gimana ngerawatnya). Emang dasarnya semua suka baca sih di keluarga. Ayah sukanya novel fiksi kriminal macam Agatha Christie, Sidney Sheldon dan sebangsanya plus Dan Brown. Saya pertama kenal Dan Brown ya dari ayah saya. Almarhumah Ibu gak banyak baca novel tapiiiii koleksi majalah di topik tanaman, masakan, gaya hidup dan kesehatannya seabrek-abrek. Kakak juga sama aja. Pertama saya kenal Harry Potter ya karena kakak saya yang koleksi. Baru dari jilid ke 6 dan 7, saya yang beli sendiri. Almarhumah nenek juga senang baca. Beneran apaaaaaaaa aja dibaca. Di usia 70an, nenek masih telaten banget baca koran langganan di rumah.

Waktu kecil, saya senang ke perpustakaan sekolah. Karena koleksinya surga banget, jadilah kerjaan saya kalau sudah selesai kelas dan jam pulang, mampir dulu ke perpustakaan buat minjem buku atau majalah kayak Orbit. Hampir tiap minggu juga kerjaan saya ke toko buku. Paling senang dulu adalah Kecil-Kecil Punya Karya dan beberapa cerpen dari Mizan. 

Jaman-jaman SD menuju SMP adalah jamannya novel Indonesia lagi menanjak popularitasnya menurut saya. Laskar Pelangi salah satunya yang saya baca. Setelah Laskar Pelangi, lanjutlah ke Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Di awal SMP juga saya berkenalan dengan Raditya Dika, salah satu inspirasi saya untuk mulai nulis blog. Kayaknya jaman SMP tuh diisi sama Chicken Soup for the Soul juga, tapi gak semua serinya saya baca sih. Ohiya, gak luput lah Harry Potter. Tapi saya bacanya tuh ngacak, jadi dimulai dari jilid 4 dulu sejalan dengan filmnya, habis itu baru mundur ke novel pertamanya 😅 memori yang saya ingat ketika mencoba menamatkan Harry Potter ke 7 adalah selesai baca, mata saya bintitan. Kayaknya karena baca novelnya sambil tiduran, dalam durasi lama dan agak gelap kondisi kamarnya tapiii males banget jalan nyalain lampu saking seru ceritanya wqwq. 

Di SMP saya rajin banget baca The Naked Travelernya Trinity. Kayaknya SMP emang jamannya saya sering baca buku tentang travelling deh karena genre itu emang lagi ngehits. Dan saya baca Cheers UK yang ditulis oleh salah satu alumni Chevening. Jujur, ini adalah perkenalan pertama saya sama beasiswa Chevening dan selesai baca buku itu, saya langsung "Oke, Chevening ya Ay". Azik.

SMA saya berkenalan dengan trilogi Negeri 5 Menaranya Ahmad Fuadi. Awalnya, saya nonton filmnya dulu di bioskop lalu baru baca bukunya. Seingat saya, ini adalah novel yang saya habiskan hanya dalam kisaran 4 jam. Saya gak pernah ngerasa selekat itu sama bacaan. Hebat banget emang novel ini. Berlanjutlah ke Ranah 3 Warna daaan Rantau 1 Muara. Kayaknya di SMA saya pertama kali mulai baca novel berbahasa Inggris deh. Novelnya adalah The Fault In Our Stars. Ayo angkat tangan yang dulu SMA senang baca novelnya John Green! Setelah TFIOS, saya lanjut baca Papertown.

Beranjak kuliah udah mulai jarang baca novel atau buku selain buku teks (wiiiih). Beberapa buku yang dibaca waktu kuliah adalah.........Tere Liye. Iya, iya telat banget. Seinget saya, Tere Liye itu ngehits di jaman saya SMA sih. Tapi ya mohon maklum ya, namanya juga Aya. Tere Liye pertama yang saya baca adalah Rindu. Habis itu baca lagi yang Pulang dan Hujan. Pernah juga baca mini biografinya Agus Salim dan Tjokroaminoto karya KPG. Jadi ingin baca ulang dua buku ini dan melengkapi koleksi rasanya. 

Ohiya, jadi waktu saya kuliah, kan di fakultas saya ada toko buku. Karena satu dan lain hal, si toko buku ini mau tutup dan memutuskan membagikan buku-buku yang tersisa di raknya secara gratis! Saya yang kebetulan masih di kampus langsung bergegas dong mengambil beberapa buku. Salah satunya adalah The Space Between Usnya Thrity Umrigar. Jujur, saya skeptis dulunya bisa menyelesaikan novel ini karena belum pernah tuh ketemu novel berlatar India dan kemiskinannya. Eeeeh ternyata bagus banget iniiiiii. Kayanya makin tua, makin senang novel yang terasa nyata aja konfliknya.

Minat baca saya agak meningkat ketika mulai berkenalan dengan Big Bad Wolf. Festival paling gak tanggung-tanggung kalau ngasih diskon buku impor. Saya pertama ke BBW di 2017, berlanjut di 2018 tapi sempat off di 2019 karena melihat tumpukan buku yang belum dibaca dari hasil pembelian tahun lalu. Apakah 2020 saya off juga? Oh tentu.............tidak. HAHA. Tapi bersyukur banget sempat ke BBW 2020 karena BBW yang ini kan tutup lebih cepat akibat pandemi. Entah kapan lagi bisa berburu buku di BBW secara fisik, hiks.

Ajaibnya, saya punya temuan BBW yang saya cinta banget sampai sekarang. Tuesdays with Morriesnya Mitch Albom yang kutemukan di BBW 2017 adalah juaranya! Bener-bener deh buku ini. Kalau lagi penat sama hidup, ya biasanya balik lagi baca buku ini. Mitch Albom lain yang saya baca adalah Have A Little Faith. Dulu sempat baca The First Phone Call from Heaven tapi belum tuntas.

Saya nemu Radiance of Tomorrow di BBW 2018. Sama kayak The Space Between Us, saya gak pernah nyangka saya suka cerita yang berlatar belakang di Afrika dengan segala gejolak konfliknya. Ternyata, saya sampai bisa meneteskan air mata waktu baca novelnya. Sedih sih bacanya.

Temuan keren di BBW 2020 adalah Logika Agama karya Abi Quraish Shihab. Awalnya skeptis juga nih saya apakah bisa terselesaikan dengan baik bukunya. Ternyata bisa! Ya walaupun ini bukunya agak mikir, tapi dari sini saya belajar bahwa sebenarnya tasawuf tuh ya bukan milik sufi semata. Betul, puncak tertingginya ya paham sufistik. Tapi sebenarnya, nilai-nilai tasawuf ini bisa loh diaplikasikan ke diri yang biasa saja ini untuk jadi jalan hidup yang sebaik-baiknya ditempuh manusia. Bagus deh ini, mencerahkan.

Jadi ingin menengok kembali rak buku dan utang bacaan yang belum terselesaikan :"

Comments