Single and Happy
288 bulan saya hidup, saya cuma pernah pacaran.........1 bulan. Gak bisa diitung pacaran juga sih itu kayanya karena tidak sesuai dengan definisi pacaran pada umumnya. Tapi ada momen jadiannya. Pusing gak tuh? Jadi sisanya ya dijalanin sendiri aja. Pernah iri sama pasangan-pasangan yang lagi dimabuk asmara? Oh, tentu. Tapi gak yang bikin saya jadi "Cariin gue pacar dong" secara serius ke teman saya. Biasanya cuma jadi selentingan doang, 10 detik kemudian lupa pernah ngomong gitu (Lah, tapi ini inget?).
Tapi gak bisa dibilang hati ini kosong-kosong amat, ya tentu ada sparks yang pernah tumbuh atau merasakan butterfly in my stomach ala anak remaja dan dewasa muda. Ya dinikmati aja rasa-rasa anehnya, selagi masih bisa dirasakan. Biasanya kalau saya sih kasusnya sebagai yang cuma bisa mengagumi dari jauh aja. Padahal kalau disuruh kasih nasehat ke teman, pasti selalu menekankan pentingnya "be assertive in love" eh ternyata malah cuma sampai di mulut aja nasehat saya untuk diri sendiri ini. Emang ya, kalau menunjuk dengan satu jari, empat lainnya berbalik ke kita.
Tapi kenapa sih kok malah tidak asertif, Ay selama ini? Hmm..karena saya tahu, apa yang saya cari ya hubungan yang serius. Dan saya punya standar sendiri untuk menentukan tuntasnya diri sendiri dan boleh memberi lampu hijau ke diri sendiri untuk mulai agresif dalam mencari mitra hidup. Saya rasa saya belum mencapai hal tersebut. Therefore, I walked away.
Masih banyak cita-cita yang ingin dicapai selama masih lajang. Gak bisa dipungkiri, berkomitmen itu berat. Apalagi kalau belum merasa tuntas sama diri sendiri ketika masih lajang. Makanya saya salut banget sama teman-teman yang udah berani berkomitmen dan membangun keluarga kecilnya. Saya berkomitmen sama diri sendiri untuk olahraga minimal jalan kaki keliling lingkungan rumah aja gak pernah beres rasanya pertarungan batinnya 😂
Selama 287 bulan saya melajang, saya sih senang-senang aja. Jalan ya sendiri aja, nonton bioskop sendiri, ke museum atau bertamasya sendirian. Seru banget! Gak repot aja jadinya. Anaknya senang dengan kepraktisan. Gak bisa dipungkiri, sempat sih terbersit pikiran "Enak banget ya sendirian mulu, ntaran aja lah nikah mah" atau "Ini gue sendirian mulu ntar kalo nikah aneh gak ya ada yang nemenin?" Tapi beneran deh, pikiran kayak gitu ya seperti yang diungkapkan di atas, 10 detik saja. Belum pernah sih yang sampai berkepanjangan khawatirnya. Saya malah lagi khawatir-khawatirnya kalau diri sendiri belum bisa jadi apa-apa di umur yang muda.
In my opinion, being single AND happy is continuous progress and not everyone can bear to walk through it.
Comments
Post a Comment